- Babinsa Serma Sabari Monitoring Peletakan Batu Pertama Ponpes Al Badariyyah
- Babinsa Koramil 04/Cikupa Gelar Patroli Wilayah Tingkatkan keamanan dan kenyamanan
- Pastikan Rasa Aman, Jelang Nataru Dandim 0510/Trs Rapat Forkopimda
- Serma Deni Yulisdianto Koramil 02/Curug Perkuat Wawasan Kebangsaan Pelajar Kelapa Dua
- Dianiaya dan Difitnah, Pelaku Masih Bebas
- STQ ke-2 Desa Cengklong Pecah! Tokoh Besar & Ribuan Warga Tumpah Ruah
- Kapolda Babel Buka Latpra Operasi Tambang Menumbing 2025
- Dapur Warga Terendam, Polres Bangka Barat Turun Langsung Salurkan Nasi Bungkus untuk Korban Banjir
- Kapolres Bangka Barat Jelaskan Kronologi Ledakan Ruko Teluk Rubiah
- Polsek Jebus Polres Bangka Barat Tangkap Pelaku Pencurian, Warga Puput Atas Kembali Merasa Aman
Anjloknya Literasi Digital di Era AI

Di tengah banjir misinformasi yang dihasilkan akal imitasi (AI), literasi digital warga Indonesia justru merosot. Berdasarkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025, skor literasi digital turun dari 58,25 menjadi 49,28 poin—lebih rendah dibanding capaian 2023.
Literasi digital mencerminkan kemampuan warga menggunakan teknologi digital secara efektif, aman, dan bertanggung jawab, sekaligus sejalan dengan nilai sosial yang berlaku. Aspek ini menjadi salah satu dari empat pilar IMDI, bersama infrastruktur dan ekosistem, pemberdayaan, serta pekerjaan.
Padahal, jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah, seiring pembangunan infrastruktur yang makin luas. Co-founder Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), Santi Indra Astuti, menilai penurunan literasi digital bisa melemahkan pilar-pilar lain dalam IMDI.
Baca Lainnya :
- Dasco: Insya Allah, Pak Prabowo & Andra Soni Dua Periode0
- Wabah Rubella Merebak di Tangsel, Puluhan Anak Terdeteksi Positif0
- Disenggol Purbaya, Wali Kota Tangsel Klarifikasi Isu Dana Mengendap Rp1,13 Triliun0
- Bea Cukai Digeledah, Purbaya Dukung Langkah Kejagung0
- 2 Bahasa Asing Masuk Kurikulum, Ada yang Jadi Mapel Wajib Tahun 20270
“Dalam jangka panjang, masyarakat hanya mampu mengakses internet tapi tidak mampu memilah informasi yang benar atau salah,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 15 Oktober 2025.
Santi mencontohkan, tingginya penggunaan transaksi dan dompet digital tanpa dibarengi literasi digital membuat warga rentan menjadi korban penipuan.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan masih lemahnya keamanan digital warga. Sebanyak 22,12 persen responden mengaku pernah tertipu secara online, sementara 14,32 persen mengalami pencurian data pribadi. Salah satu penyebabnya, banyak warga masih menggunakan kata sandi yang mudah ditebak.
Rendahnya literasi digital juga menghambat upaya membendung misinformasi dan disinformasi. Masyarakat makin mudah terkecoh hoaks, terutama di era akal imitasi (AI), ketika konten asli dan palsu sulit dibedakan dengan mata telanjang.
Santi menegaskan, literasi digital bukan semata soal teknologi. Ia berkaitan erat dengan daya pikir, ideologi, dan psikologi manusia. Karena itu, edukasi digital tak cukup berhenti pada keterampilan teknis, tetapi juga harus menyentuh lapisan afektif manusia.
Namun, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Irfan Wahyudi, menilai literasi digital belum diajarkan di tingkat pendidikan dasar. Akibatnya, banyak warga gagap menghadapi realitas digital.
“Belum ada kurikulum dasar yang mengajarkan teknologi digital,” ujarnya. Tanpa pembekalan sejak dini, generasi muda tumbuh hanya sebagai pengguna teknologi tanpa kemampuan berpikir kritis.
Irfan menekankan perlunya pergeseran dari program yang sekadar mengajarkan penggunaan gawai secara bijak menjadi gerakan memahami informasi secara kritis. “Literasi bukan pelengkap teknologi, tapi pagar yang menjaga agar teknologi tak berubah menjadi senjata,” katanya.
1.png)






