Internasional

Serangan teror beruntun, Inggris kini jadi surganya para teroris

Firmansyah | Senin, 05 Juni 2017 - 08:08:34 WIB | dibaca: 717 pembaca

ledakan di konser ariana grande. ©Independent

Serangkaian aksi teror terus terjadi di Inggris. Belum habis duka rakyat Inggris setelah terjadi ledakan bom di Manchester Arena pada 22 Mei lalu usai konser penyanyi Amerika Serikat Ariana Grande yang menewaskan 22 orang dan melukai 50 lainnya, aksi teror kembali terjadi di London.

Sebuah mobil van berpenumpang lima orang menyeruduk pejalan kaki di kawasan jembatan London kemarin. Tak hanya itu, tiga dari pelaku teror turun ke jalan dan menikam orang-orang tak berdosa di wilayah itu. Akibatnya, tujuh orang tewas sementara 48 lainnya terluka.

Meski polisi telah menembak mati tiga pelaku teror, namun dua pelaku lain hingga kini masih buron. Aksi teror serupa juga pernah terjadi pada 22 Maret lalu di London, tepatnya dari jembatan Westminster sampai ke Gedung Parlemen Inggris. Seorang pria mengendarai mobil dan membuat kekacauan dengan menyeruduk para pejalan kaki. Kemudian dia turun dari mobilnya dan menikam sejumlah orang. Akibat insiden itu lima orang tewas termasuk anggota polisi dan beberapa lainnya terluka.

Sejumlah aksi teror yang terjadi di Negeri Ratu Elizabeth seolah membuat para teroris menganggap Inggris sebagai sasaran empuk bagi mereka untuk melakukan aksi tak manusiawi. Bahkan, menurut badan intelijen setempat, Inggris telah menjadi "surga" bagi para jihadis yang akan melakukan serangan provokasi. Sebagian besar di antaranya malahan merupakan penyerang potensial.

Hal ini sedikit banyak membuat publik mempertanyakan tentang kapasitas badan intelijen dan otoritas penegak hukum di sana. Ada kekhawatiran bahwa badan intelijen tidak kompeten dalam mendeteksi akan adanya sebuah serangan ekstremisme.

Bahkan ketika seorang teroris dilumpuhkan usai melakukan aksinya, seperti Khalid Masood pelaku teror Gedung Parlemen, tidak ada upaya lain dilakukan pemerintah untuk mengungkap jaringan teror Masood dan pengawasan tertentu agar tidak terjadi serangan serupa.
Aksi teror serupa juga pernah terjadi pada 22 Maret lalu di London, tepatnya dari jembatan Westminster sampai ke Gedung Parlemen Inggris. Seorang pria mengendarai mobil dan membuat kekacauan dengan menyeruduk para pejalan kaki. Kemudian dia turun dari mobilnya dan menikam sejumlah orang. Akibat insiden itu lima orang tewas termasuk anggota polisi dan beberapa lainnya terluka.

Sejumlah aksi teror yang terjadi di Negeri Ratu Elizabeth seolah membuat para teroris menganggap Inggris sebagai sasaran empuk bagi mereka untuk melakukan aksi tak manusiawi. Bahkan, menurut badan intelijen setempat, Inggris telah menjadi "surga" bagi para jihadis yang akan melakukan serangan provokasi. Sebagian besar di antaranya malahan merupakan penyerang potensial.

Hal ini sedikit banyak membuat publik mempertanyakan tentang kapasitas badan intelijen dan otoritas penegak hukum di sana. Ada kekhawatiran bahwa badan intelijen tidak kompeten dalam mendeteksi akan adanya sebuah serangan ekstremisme.

Bahkan ketika seorang teroris dilumpuhkan usai melakukan aksinya, seperti Khalid Masood pelaku teror Gedung Parlemen, tidak ada upaya lain dilakukan pemerintah untuk mengungkap jaringan teror Masood dan pengawasan tertentu agar tidak terjadi serangan serupa. sumber:merdeka










Komentar Via Website : 73
Ciri Awal Penyakit Kusta
26 Agustus 2017 - 13:25:47 WIB
semangat dan sukses http://goo.gl/tiWEhd
walatra gamat emas kapsul
02 Oktober 2017 - 08:28:11 WIB
sajikan terus berita menarik lainnya http://bit.ly/2x6Sq02
Makanan Sehat Penderita Kusta
17 Oktober 2017 - 13:46:47 WIB
sajian informasi yang ada pada halaman ini memang menarik untuk di simak http://bit.ly/2xKCZWH
Awal Kembali...678 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)