Pendidikan

Wapres: Guru yang Dongkrak Nilai Siswa Lakukan Pembodohan Nasional

Aji Dirta | Rabu, 01 April 2015 - 09:10:42 WIB | dibaca: 812 pembaca

Wakil Presiden Jusuf Kalla berpesan agar para guru memberikan nilai kepada siswa secara jujur. Ia tak ingin ada guru yang mendongkrak nilai siswa demi tujuan tertentu.

"Dulu kan ada sistem dongkrak, itu lah proses pembodohan. Begitu Anda dongkrak-dongkrak, maka Anda melakukan proses pembodohan nasional. Apalagi kalau didesak-desak bupati atau camat agar lulus 100 persen supaya walikotanya namanya bagus. Itu akan terjadi pembodohan karena tidak belajar tapi dikasih angka baik, ya untuk apa belajar?" kata Kalla, saat menerima para guru teladan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (31/3/2015).

Wapres juga meminta para guru untuk memotivasi siswanya belajar agar lulus ujian. Jika tidak, lanjut dia, maka kualitas anak didik di daerah akan ketinggalan dengan mutu anak didik di perkotaan.

"Kalau tidak, akhirnya orang-orang di daerah akan di bawah terus nilainya sehingga mau masuk UI, ITB, Gajah Mada, susah. Karena isinya kurang, ya macam-macam lah, jadi geng motor lah, apa lah, begal," kata dia.
Menurut Kalla, yang membedakan peserta didik di perkotaan dengan di daerah-daerah adalah semangat belajarnya. Masyarakat, kata dia, cenderung memandang lebih rendah siswa lulusan di daerah-daerah. Padahal, menurut Kalla, fasilitas sekolah, mau pun kurikulum yang diajarkan kepada para siswa sama kualitasnya dari Sabang sampai Merauke.

"Gedung sekolah di Jakarta, Makasar, Bandung, sama semua. Kalau satu sekolah katakanlah 2 miliar, itu sama di Bandung, Makasar. Perpustakaannya sama, laboratoriumnya sama, gurunya semua Spd (sarjana pendidikan), tapi sekarang kenap berbeda? (kualitas hasil didikannya)" papar Kalla.

Selain semangat belajar para siswa, kualitas peserta didik di daerah berbeda dengan perkotaan dalam mengikuti perkembangan ilmu. Menurut dia, peserta didik di daerah cenderung kurang mengikuti perkembangan ilmu yang sejalan dengan perkembangan teknologi.

"Ilmu berkembang cepat sekali. Itu yang mungkin kurang diikuti padahal buku sama, semua bisa akses di internet, itu yang jadi berbewda itu semangat belakjar itu yang berbeda. Semangat ingin tau itu juga berbeda," ujar Kalla.
Dengan kondisi demikian, ia menilai para guru dan kepala sekolah yang bisa memperbaikinya. Semangat belajar siswa, kata dia, harus diperbaiki. Wapres meminta para guru meningkatkan peranan orang tua di rumah dalam menumbuhkan semangat belajar sisa.

Selain itu, Wapres menekankan perlunya memperbaiki kurikulum karena ilmu terus berkembang. Ia juga mengingatkan para guru untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. sumber:kompas










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)